“Apa salah satu usaha yang perlu dilakukan untuk menjaga agar relasi pasangan suami istri tetap utuh, harmonis dan semakin mendalam?”,  tanya seorang ibu muda kepada psikolog keluarga dalam sebuah acara “talk show” di televisi swasta yang saya tonton bersama komunitas sore ini. Jawaban psikolog itu menarik bagiku “Ciptakan minimal 15 menit setiap hari waktu Anda bersama pasangan untuk berbicara tentang kalian, bicara hal-hal yang mendalam; perasaan, suka duka, keharmonisan, mimpi, dan lain sebagainya.  Usahakan tanpa ada gangguan handphone, anak-anak atau pekerjaan”

Jawaban itu saya rasa juga cocok  bagi orang yang memilih hidup sebagai religius, biarawan-biarawati atau imam. Bahwa waktu perjumpaan bersama Yesus yang dijaga dengan setia dan berkualitas adalah kunci penting membangun relasi yang intim dan hangat dengan Dia, diri sendiri, sesama dan alam semesta.  

Waktu perjumpaan dengan pasangan ini juga menjadi bahan dialogku dengan Yesus dalam doa hari ini.

Bagaimana aku mengusahakan dan mengisi waktu-waktu perjumpaanku bersamaNya sehari-hari? Cara doa “centering prayer” kualami sangat membantu aku secara pribadi untuk hadir di hadapan Allah dan menjalani hidup harian  dengan lebih tenang dan sadar.

Bagaimana buah doa atau relasiku dengan Dia ini berdampak pada hidup komunitas dan misiku?. Sejenak kulihat hidup berkomunitasku. Gambaran mana yang ada di komunitasku; persatuan, kesetiaan, kehangatan, penerimaan dan berkat atau sebaliknya perpecahan, kemarahan, perselingkuhan, relasi yang dangkal, penolakan?

Aku bersyukur meskipun jatuh bangun sampai saat ini komunitas kami masih diberkati Tuhan dengan persatuan dan kehangatan. Bekerja sama dengan rahmat Allah kami mengusahakan kesetiaan. Karya misi yang dipercayakan Allah juga pelan-pelan mengalami pertumbuhan dan membawa sukacita. Syukur kepada Allah atas kasih setiaNya.

Hadir dalam doa ku sosok presiden Joko Widodo. Rasa syukur kepada Allah untuk anugerah beliau bagi Indonesia. Figur yang selalu ada ketika Indonesia berjuang, berduka, dan membenahi diri. Bagaikan seorang bapak yang setia, berdoa dan menjaga agar kita tetap satu dan mengalami kesejahteraan.

Dalam doaku juga kuingat dan bersyukur atas Josef; sahabat, saudara dan teman seperjuangan dalam panggilan yang dianugerahkan Allah bagiku. Darinya aku belajar setia pada SabdaNya serta memaknai setiap perjalanan hidupku.

Kembali belajar dan bercermin dari Yesus Sang Guru mengakhiri refleksiku hari ini yang menempatkan anak-anak sebagai gambaran yang empunya Kerajaan Allah menyadarkan dan mengundangku untuk berani semakin terbuka, apa adanya/outentik, tersedia bagiNya dan semakin tergantung pada belas kasihNya.

Sr. Sisilia Andri SSpS

Waktu Perjumpaan dengan Pasangan

08 October 2018

trzebuniak@werbista.pl

Twitter

Facebook 

Linkedin

Google+

Doa Serikat Sabda Allah

 

Semoga tersingkirlah kegelapan dosa dan malam tak beriman
di hadapan cahaya
Sabda Allah dan Roh Rahmat
dan semoga hati Yesus hidup
dalam hati semua orang.

 

(Santo Arnold Janssen)