“Kita tidak menerima roh dunia, tetapi roh yang berasal dari Allah supaya kita tahu, apa yang dikaruniakan Allah kepada kita” (1 Kor 2: 12).
Peristiwa bencana alam gempa di Lombok akhir Juli 2018 yang lalu belum beranjak dari kesadaran, permenungan, fokus atau perhatian dan seruan doa-doa kita bersama. Peristiwa ini menggerakkan hati banyak pihak untuk berbuat sesuatu yang dapat meringankan beban dan penderitaan sesama. Genap dua bulan dari peristiwa bencana di Lombok. Dukacita yang mendalam datang kembali dengan peristiwa bencana alam gempa dan tsunami yang terjadi di Palu, Donggala, Sigi – Sulawesi, 28 September 2018. 
Betapa  sulit secara akal  sehat manusia kita menerima dan memahami pengalaman ini, apalagi bagi mereka yang secara langsung mengalaminya. “Apa yang dapat dilakukan manusia menghadapi kedasyatan alam dan Kemahakuasaan Allah?”   Semangat atau roh dunia seperti kesombongan, keserakahan dan keputusasaan tidak mampu memberi ruang bagi iman, harapan dan kasih menghadapi kenyataan ini. Hanya Roh yang dikaruniakan Allah kepada kita yang membuka ruang luas bahwa belas kasih dan kerahiman Allah mengatasi semua penderitaan manusia itu.
Peristiwa berpulangnya empat suster SSpS dari Provinsi Maria Bunda Allah, Jawa ke Rumah Bapa dalam empat bulan terakhir juga menggoreskan pengalaman kehilangan dan perpisahan yang dalam bagi kami. Di sisi lain hidup dan karya misi Allah yang dipercayakan kepada kita perlu terus dilanjutkan. Kesetiaan Allah terpancar nyata dalam pemberian diri para suster di tempat misi dan berbagai usaha yang dilakukan bersama mitra misi. Usaha untuk terus belajar dan melakukan pembenahan dalam melayani sesama juga merupakan wujud nyata bahwa kita menghargai hidup dan misi yang dikaruniakan oleh Allah kepada kita.

Sisilia Andri SSpS
 

 Tsunami di Palu

02 October 2018

trzebuniak@werbista.pl

Twitter

Facebook 

Linkedin

Google+

Doa Serikat Sabda Allah

 

Semoga tersingkirlah kegelapan dosa dan malam tak beriman
di hadapan cahaya
Sabda Allah dan Roh Rahmat
dan semoga hati Yesus hidup
dalam hati semua orang.

 

(Santo Arnold Janssen)