Selama seminggu ini mulai Senin, tanggal 4 sampai dengan Minggu, 10 Februari 2019, saya mendampingi  para novis mengikuti program pengolahan hidup. Peserta berjumlah 41 novis dari 7 tarekat di keuskupan Malang didampingi 9 orang pendamping. Program pendampingan bersama ini merupakan program pengolahan hidup lanjutan setelah dilakukan di tarekat masing-masing. Ditemani seorang pakar, imam dan formator senior dari tarekat MSF kami mencoba menemukan bersama bagaimana kami mendampingi orang-orang muda calon biarawan-biarawati zaman ini secara kreatif. Beberapa metode digunakan dalam pendampingan ini, diantaranya; menyusun mozaik pengalaman hidup, perigrinasi, dialog ciptaan, TAT & Rotter, psikodrama, dan seni membuat patung.

Terbuka akan bimbingan Roh Kudus Sang Formator Agung, kami mencoba disiplin dan setia menjalani setiap proses dalam suasana keheningan. Dalam setiap proses para novis mendapat kesempatan sharing. Sharing dan interaksi dilakukan dalam kelompok yang beranggotakan 8 novis dengan 2 orang pendamping. Para pendamping juga melakukan dialog dan studi bersama sebagai tim untuk menemukan cara yang paling cocok dalam mendampingi formandi baik secara personal maupun sebagai kelompok. Bagaimana membantu mereka semakin mengenal diri dan lebih lepas bebas serta sukacita mempersembahkan diri kepada Allah.

Pada tahun keenam sebagai pendamping novis, saya semakin bersyukur atas tugas pelayanan ini. Setiap menemani para novis berproses dalam pengolahan hidup, saya pun berproses, mengalami disembuhkan dan ditumbuhkan Allah agar semakin efektif tersedia bagi Allah dan sesama. Setiap pengalaman perjumpaan membawa sebuah pesan perubahan. Pengalaman “menjamah jumbai jubah Yesus”, pengalaman menerima Yesus dalam rumahnya, pengalaman membiarkan Yesus memegang tangan anaknya dan membisikkan kata “TALITAKUM” (“Hai anak, Aku berkata kepadamu, bangunlah!”) menjadi pengalaman iman personal Yairus, kepala rumah ibadat dan perempuan yang sakit pendarahan selama 12 tahun (Mrk. 5:21-43, Mat. 9: 18-26 dan Luk. 8: 40-56). Saya belajar bagaimana seorang formator juga perlu mengungkapkan iman seperti mereka dalam mendampingi para calon.

Ada usaha secara aktif, gigih mencari dan datang kepada Yesus, tidak cepat puas akan apa yang telah diusahakan, menyampaikan apa yang menjadi kebutuhan mendasar para formandi dan dirinya dalam proses pendampingan. Terus mengasah hati untuk memiliki sikap tulus, rendah hati dan berani “bersungkur” di hadapan Yesus ketika menemui bahwa orang yang kita dampingi atau bahkan kita sendiri mengalami perlu disembuhkan atau dibangkitkan. Terus mengarahkan pandangan kepada Yesus dan membuka telinga hati kita agar seruan Yesus “Talitakum” berdaya guna  menghidupkan potensi-potensi manusiawi dan illahi dalam diri kita.

S. Sisilia Andri, SSpS

TALITA KUM

06 February 2019

trzebuniak@werbista.pl

Twitter

Facebook 

Linkedin

Google+

Doa Serikat Sabda Allah

 

Semoga tersingkirlah kegelapan dosa dan malam tak beriman
di hadapan cahaya
Sabda Allah dan Roh Rahmat
dan semoga hati Yesus hidup
dalam hati semua orang.

 

(Santo Arnold Janssen)