Di Flores anak-anak dan remaja selalu mengenakan seragam di sekolah. Terlepas dari apakah itu sekolah negeri atau swasta. Selama seminggu saya berkesempatan mengunjungi sekolah menengah di Hokeng, dekat Larantuka, di bagian timur Flores. SMP ini dikelola oleh Suster Misi Abdi Roh Kudus (SSpS). Di dekat sekolah ada tiga asrama tempat anak-anak tinggal setelah pelajaran. Hanya siswa yang tinggal di dekat sekolah yang kembali ke keluarga mereka setelah kelas. Sebagian besar siswa berasal dari daerah yang jauh dan bahkan dari pulau lain seperti Adonara, Solor dan Lembata. Namun, mereka biasanya memilih sekolah di Flores, karena tingkat pendidikan di sini jauh lebih baik daripada di tempal asal mereka. Selain itu, di sekolah-sekolah para suster mempunyai disiplin yang lebih tinggi serta hasil ujian akhir dengan hasil yang sangat memuaskan. Tetapi hanya anak-anak dari keluarga yang mampu yang dapat memperoleh pendidikan di sekolah swasta, karena orang tua mereka dapat membiayai pendidikan anak-anak mereka.

Di sekolah di Hokeng, ujian berlangsung tentang budaya lokal dari NTT (Nusa Tenggara Timur), yaitu Flores, Sumba, Lembata, Adonara, Solor, dll. Para siswa menyiapkan kostum, tarian, dan lagu dalam bahasa daerah. Di setiap kelas yang saya kunjungi, saya disambut dengan tepuk tangan dan meminta berkat. Banyak pertanyaan diajukan karena saya berasal dari negara Eropa timur - Polandia. Siswa bertanya dalam bahasa resmi - bahasa Indonesia, tetapi kadang-kadang juga dalam bahasa Inggris. Karena tingkat bahasa Indonesia saya masih di tingkat pemula (masih belajar), saya kadang-kadang harus menjawab dalam Bahasa Inggris. Meski begitu, para siswa langsung menyukai saya dan meminta foto.

Semua penduduk Flores dan pulau-pulau sekitarnya sebagian besar beragama Katolik. Hanya sebagian kecil yang beragama lain (Kristen, Islam, Hindu, Budha). Setiap hari jam 05:30 saya merayakan Ekaristi bersama para suster SSpS dan juga para siswa SMP. Siswa-siswi senang bernyanyi, bermain, dan membaca Kitab Suci. Kegiatan membaca Kitab Suci selalu dilakukan pada setiap hari Sabtu dan dan hari Minggu. Para siswa juga mengunjungi saya di komunitas biara untuk berkomunikasi dalam Bahasa Indonesia dan Bahasa Inggris.

Saya senang ketika berada di Hokeng, karena saya bertemu dengan banyak orang Indonesia dengan keramahan yang luar biasa. Selain itu, saya melihat iman dan aktivitas mereka yang kuat di gereja. Setiap misionaris dari luar negeri yang bekerja di Flores merasa senang karena mereka diterima dan diperlakukan dengan baik oleh orang-orang di sini. Meskipun pengetahuan tentang bahasa dan budaya masih sangat kurang. Terkesan semua orang yang saya jumpai menunjukkan persaudaraan yang sangat tinggi. 

Sepenggal Pengalaman di Hokeng

04 March 2019

trzebuniak@werbista.pl

Twitter

Facebook 

Linkedin

Google+

Doa Serikat Sabda Allah

 

Semoga tersingkirlah kegelapan dosa dan malam tak beriman
di hadapan cahaya
Sabda Allah dan Roh Rahmat
dan semoga hati Yesus hidup
dalam hati semua orang.

 

(Santo Arnold Janssen)