Setelah enam bulan di Indonesia, saya harus pergi ke luar negeri untuk mendapatkan visa baru. Ini adalah proses yang wajar yang berlaku untuk semua misionaris. Saat ini seorang misionaris tidak dapat memperoleh izin kerja di Indonesia, tetapi hanya visa turis. Timor Leste merupakan negara tetangga Indonesia yang telah merdeka 20 tahun, jarak dari pulau flores ke Timor Leste relative dekat. Saya berangkat dengan menumpang pesawat menuju Kupang yang adalah ibu kota Provinsi Nusa Tenggara Timur (NTT).

Kupang merupakan kota yang berkembang. Saya menunggu jadwal penerbangan ke Atambua untuk selanjutnya ke Timor Leste di kota ini. Di Kupang saya mengunjungi taman kanak-kanak, SMP, dan Klinik yang dikelola oleh para suster SSpS Timor. Saya disambut secara hangat dan peuh sukacita oleh anak-anak remaja. Saya juga menyempatkan berbelanja karena terdapat supermarket seperti di negara-negara Barat (Eropa). Saya pun melanjutkan perjalanan menuju Timor Leste, dan untuk menuju perbatasan saya menunggunakan mobil.

Negara Timor Leste Merdeka pada tanggal 20 Mei 2002. Negara ini terus berjuang dengan berbagai masalah. Orang-orang yang tinggal disana datang dari daerah yang berbeda-beda terutama yang datang dari negara Indonesia. Banyak hewan yang dibiarkan berkeliaran begitu saja, tanpa dikandangi. Bagi yang menggunakan jalan raya perlu hati-hati agar tidak menabrak sapi, kambing, anjing, babi atau ayam yang menyeberang jalan. Jalan utama masih dalam proses renovasi hal ini dikarenakan hujan lebat yang mengakibatkan longsor hal ini rutin dilakukan setiap tahun. Mata uang Timor Leste menggunakan Dolar AS.

Saya datang ke ibu kota Dili pada hari Jumat dan menunggu visa baru untuk  ke Indonesia. Kota ini ramai, dan penduduk setempat berbicara bahasa 'tetum', selain itu menggunakana bahasa Portugis dan kadang-kadang bahasa Indonesia dan Inggris. Ada banyak komunitas religius, tetapi mayoritas biarawan dan biarawati datang dari Indonesia. Para misionaris SVD juga terkenal disini karena selama ini mereka berjuang untuk kemerdekaan dan  mereka membantu mulai pergolakan hingga pengungsian. Saat ini ada lebih dari 20 postulan yang dididik di ibu kota. Para Suster Abdi Roh Kudus memiliki sebuah rumah novisiat di kota terdekat bernama Hera. Karena berada di luar kota, suhu dan udara jauh lebih baik daripada di Dili artinya cukup sejuk.

Tibalah waktunya saya kembali ke Ledalero. Dalam perjalanan kembali saya tinggal selama seminggu di Kefamenanu. Ini adalah kota kecil, tetapi siapapun  bisa mendapatkan pendidikan penuh dari taman kanak-kanak hingga universitas disana. Orang-orang dari Timor sangat ramah dan bersahabat. Iman dan hidup mereka mendorong saya untuk tinggal bersama mereka. Selain itu juga yang menarik bagi saya adalah pemandangan  yang indah dan buah yang mudah didapat dan segar. Saya membangun persaudaraan yang baik bersama orang-orang di Timor Kefamenanu sehingga saya cukup merasa kerasan disana. Enam bulan lagi saya pasti akan kembali kesana untuk memperbaharui Visa, dan tentunya akan berjumpa lagi  dengan teman-teman baru saya di Kefa-Timor.

Perjalanan Misi

26 May 2019

trzebuniak@werbista.pl

Twitter

Facebook 

Linkedin

Google+

Doa Serikat Sabda Allah

 

Semoga tersingkirlah kegelapan dosa dan malam tak beriman
di hadapan cahaya
Sabda Allah dan Roh Rahmat
dan semoga hati Yesus hidup
dalam hati semua orang.

 

(Santo Arnold Janssen)