Kisah panggilanku dimulai di sekolah dasar. Di kelas kedua aku menjadi misdinar dan sering melayani di gereja paroki. Namun, di sekolah menengah aku ingin berkeluarga juga. Aku jatuh cinta dengan seorang gadis dan memikirkan masa depan kami bersama. Pada usia 18 tahun aku dipanggil, yaitu, melalui Alkitab, aku dengan jelas mendengar Allah memanggil aku untuk menjadi seorang rasul seperti Rasul Paulus.

Hal itu sangat kuat sehingga selama retret aku memutuskan untuk memilih imamat. Selain itu, ada seorang misionaris di paroki kami dan kesaksiannya juga menarik untukku. Itulah sebabnya aku memutuskan untuk meninggalkan kebahagiaan dan hidup dalam keluarga dan mengikuti Yesus.

Aku masih harus mengucapkan selamat tinggal kepada gadis itu dan meninggalkan orangtua dan teman-teman yang aku cintai. Pada usia 19 tahun, aku memiliki novisiat selama satu tahun dalam Serikat Sabda Allah. Kemudian aku belajar enam tahun di seminari tinggi. Selain itu, aku bekerja sebagai sukarelawan satu tahun praktek dengan anak-anak. Pada usia 25, aku berkaul kekal, dan sesudah itu aku ditahbiskan sebagai diakon dan imam.

Aku harus menunggu lama untuk misiku. Lebih dari 10 tahun. Aku bekerja selama dua tahun di paroki, kemudian studi bahasa klasik, dan teologi patristik. Pada tahun 2018, aku bekerja sebagai misionaris di Indonesia. Aku memilih Kristus setiap saat. Hidupku untuk Injil membutuhkan kesetiaan pada kaul religius, serta melepaskan rumah dan keluargaku. Namun, panggilan adalah sukacita karena aku juga memiliki banyak saudari dan saudara baru yang menemani aku dalam perjalanan ke Surga.

Panggilanku

24 September 2019

trzebuniak@werbista.pl

Twitter

Facebook 

Linkedin

Google+

Doa Serikat Sabda Allah

 

Semoga tersingkirlah kegelapan dosa dan malam tak beriman
di hadapan cahaya
Sabda Allah dan Roh Rahmat
dan semoga hati Yesus hidup
dalam hati semua orang.

 

(Santo Arnold Janssen)