Mengambil waktu hening bersama diri dan Allah setiap hari adalah kebutuhan setiap orang. Namun kita menyadari betapa sulitnya mendisiplinkan diri untuk menyediakan waktu itu. Ketika pekerjaan harian kita dengan berbagai rencana dan perkembangannya disusun, mulailah godaan kuat meniadakan waktu hening bersama diri dan Allah.

Terasa sekali bagi saya sepanjang bulan Februari ini. Jadwal perjalanan padat pulang pergi Batu – Surabaya untuk berbagai pertemuan. Suasana jalanan yang macet dengan kendaraan bermotor menjadi pemandangan yang biasa  saya jumpai. Bila  saya gambarkan demikian juga keributan di dalam pikiran ini. Keributan yang membawa dampak kelesuan pada jiwa. Tanda-tanda jelas yang muncul adalah menurunnya selera humor dan minat untuk rekreasi bersama komunitas. Daya kreatifitas dalam pelayanan juga serasa macet. Rasa yang dominan adalah jenuh dan mudah emosi. Kerja menjadi fokus utama. Doa kadang menjadi kering dan monoton. Warna relasi menjadi fungsional. Sering kita berpikir bahwa dengan bekerja keras hidup dan pelayanan ini akan menjadi lebih baik serta efektif.

Bekerja keras bukan sebuah kekeliruan. Yang perlu dievaluasi adalah apa yang menjadi fokus dan motivasi dalam bekerja. Kita seringkali terlarut dan lupa diri dalam pekerjaan. Seakan-akan kita dapat mencintai Allah dan sesama dengan semua yang kita kerjakan itu. kita lupa melibatkan Allah dan bertanya pada Dia “Apa yang dikehendakiNya?”. kita juga kurang memberi waktu yang berkualitas untuk berada bersama sesama dalam komunitas atau keluarga. Kurang mendengarkan dan kurang peka akan kebutuhan orang-orang terdekat kita.

Membaca renungan yang dikirim seorang teman tentang kesadaran siapa Yesus dalam hidup saya, bagaimana relasi saya dengan Yesus terutama dalam melaksanakan misiNya. Juga dalam sebuah acara seminar bersama para formator lintas kongregasi yang diselengarakan oleh para Suster tarekat Putri Kasih saya disadarkan: bahwa “ketika kita hanya mengejar efektifitas dalam pelayanan,  tanpa mengembangkan segi afektif, lambat laun efektifitas pelayanan akan menurun”.  Saya mendengarkan sapaan Allah melalui sesama ini. Saya perlu mengembangkan segi afeksi secara baik, jika ingin melayani dengan lebih efektif.

Dapatlah dikatakan ketika kita bekerja keras dalam pelayananan, tetapi masih mengandalkan diri sendiri, bukan Allah dan kehendakNya yang utama, kita belum mencintai Allah dan sesama. Nampaknya tanpa sadar kita sedang mengontrol Allah dan sesama. Kita perlu kembali kepada Sumber Hidup, yaitu Allah sendiri. Setia pada SabdaNya dan bertanya dalam doa “Apa yang Dia kehendaki dari diri kita?”.

Melalui beberapa kegiatan sederhana yang kreatif dan rekreatif seperti berkebun, mengunjungi sesama yang sedang sakit, jalan-jalan sore atau berolah raga, minum kopi bersama, bermain kartu Canasta dan memasak kue di dapur komunitas di waktu senggang perlu diadakan agar pikiran dan hati kita segar kembali. Kesadaran untuk hadir di sini dan saat ini, membiarkan cinta Allah yang kreatif, dinamis, lembut dan hangat menyentuh hidup kita. 

Sr. Sisilia Andri, SSpS

Membiarkan Diri Dicintai Allah

04 March 2019

trzebuniak@werbista.pl

Twitter

Facebook 

Linkedin

Google+

Doa Serikat Sabda Allah

 

Semoga tersingkirlah kegelapan dosa dan malam tak beriman
di hadapan cahaya
Sabda Allah dan Roh Rahmat
dan semoga hati Yesus hidup
dalam hati semua orang.

 

(Santo Arnold Janssen)