Semester baru dengan kuliah di Siminari Tinggi Ledalero, Flores, Indonesia sudah dimulai. Namun tahun ini, karena ancaman Covid-19, diputuskan bahwa kelas akan diadakan hingga akhir Januari melalui Internet. Di seminari jumlah pater, bruder dan frater lebih dari 400 orang. Di lingkungan kami sudah ada orang yang kena virus corona, dan di seminari juga ada yang dikarantina. Namun di NTT, hanya ada satu kota - Kupang di mana bisa diperiksa apakah terkena virus corona atau tidak. Kami menunggu hasil tes sekitar sebulan, karena antriannya sangat panjang. Sementara itu, semakin banyak orang sakit. Dari waktu ke waktu, ada informasi bahwa seseorang telah meninggal akibat virus tersebut. Kemudian pemakaman berlangsung segera, tanpa partisipasi keluarga. Tapi benarkah itu virus corona? Sekali lagi, seseorang harus menunggu sebulan untuk hasil tes ... 

              Dalam keadaan seperti itu, terkadang dengan kecemasan dan stres, jika orang lebih sensitif; terkadang dengan senyuman di wajah orang muda yang tidak takut dengan virus dan biasanya tidak percaya bahwa data itu benar. Musim hujan sudah dimulai pada bulan Desember. Jadi seperti biasa ada musim pilek dan flu. Karena virus Covid-19, banyak orang ingin dapat tes, yang disebut 'rapid test' di rumah sakit. Kemudian biasanya hasilnya positif. Oleh karena itu, ada perasaan tidak aman dan bahaya. Namun masyarakat Flores cukup kuat terhadap berbagai jenis penyakit dan virus. Penyakit DBD dan malaria, tuberkulosis dan rabies masih sering terjadi di daerah ini. Namun, matahari bersinar dan membagikan vitamin D kepada masyarakat. Puji Tuhan.

            Para dosen mulai mengajar secara online. Mereka pergi ke ruang kelas dengan laptop saja dan mencoba mengajar filsafat dan teologi melalui Internet. Mahasiswa-mahasiswi dan para frater senang, karena sejak kecil mereka sudah terbiasa memegang HP (smartphone) di tangan mereka. Ini menjadi tantangan bagi para profesor karena semuanya harus dipersiapkan secara online. Maka, kami perlu mengubah pikiran oleh karena kondisi baru, yang sudah terjadi ke Pulau Flores. Apalagi, masker harus dipakai di mana-mana. Masyarakat di pasar masih mempertanyakan apakah virus Covid-19 ini benar-benar ada atau tidak. Hingga saat ini belum ada yang menjelaskan dari mana virus ini berasal dan apakah itu kecelakaan atau tindakan yang direncanakan. Keraguan seperti itu juga mengganggu hati kami.

            Meskipun demikian, hari demi hari kami berdoa di kapela agung Seminari Tinggi Ledalero. Pukul 5:15 pagi kami mulai dengan doa pagi, kemudian meditasi, dan Ekaristi dalam kelompok yang lebih kecil. Kami juga sharing Kitab Suci. Di waktu kosong kami berjalan-jalan dengan teman-teman dan berenang di laut. Kami berusaha hidup normal, meski kondisinya berbeda dengan normal. Kami percaya bahwa di atas segalanya, Tuhan Allah menjaga dunia, dan kami berada di tangan-Nya. Itu sebabnya kami tidak menyerah tetapi melihat ke masa depan dengan harapan. Dalam Sang Sabda.

Hidup harian

21 January 2021

trzebuniak@werbista.pl

Twitter

Facebook 

Linkedin

Google+

Doa Serikat Sabda Allah

 

Semoga tersingkirlah kegelapan dosa dan malam tak beriman
di hadapan cahaya
Sabda Allah dan Roh Rahmat
dan semoga hati Yesus hidup
dalam hati semua orang.

 

(Santo Arnold Janssen)