“Kami meniup seruling bagimu, tetapi kamu tidak menari, kami menyanyikan kidung duka, tetapi kamu tidak berkabung” (Mat 11:17).

Bila kugambarkan kalimat dari ayat ini dengan orang tua yang sedang mendidik anaknya dengan begitu rupa dan beraneka cara, namun tidak ada tanggapan dan perubahan. Bisa kita bayangkan bagaimana perasaan orang tua itu? Mungkin mereka merasa jengkel karena kehabisan kesabaran. Sudah berusaha sekuat tenaga, tetapi tidak ada perubahan. Atau mereka merasa sedih karena anaknya belum mengerti apa yang mereka maksudkan.

Perubahan, pertumbuhan atau kebahagiaan adalah pilihan kita. Ada di tangan kita. Setiap saat Allah menawarkan berkat kebahagiaan itu. Allah penuh kerinduan agar kita mengalami berkat kebahagiaan itu. Allah menawarkan, Dia tidak pernah memaksakan. Allah selalu bersabar kepada kita. Dari pihak kita diminta keterbukaan untuk bekerjasama dengan rahmat Allah itu.

Masa Advent ini menjadi saat yang baik melihat kembali bagaimana tanggapan-tanggapan kita akan tawaran kebahagiaan dari Allah setiap hari?

“Apakah dengan sukacita kita menari seiring bunyi seruling Allah?”, atau kita tidak mampu menangkap bunyi seruling itu dengan jelas dan indah karena ada yang menghalangi telinga hati kita. Yesus, bukalah telinga hati ku!

Mari kita datang kepada Yesus, jangan ditunda lagi!. UndanganNya berlaku sampai kapanpun. 

Sr. Sisilia Andri SSpS

Bukalah telinga hatiku!

21 December 2018

trzebuniak@werbista.pl

Twitter

Facebook 

Linkedin

Google+

Doa Serikat Sabda Allah

 

Semoga tersingkirlah kegelapan dosa dan malam tak beriman
di hadapan cahaya
Sabda Allah dan Roh Rahmat
dan semoga hati Yesus hidup
dalam hati semua orang.

 

(Santo Arnold Janssen)