Pengalaman kematian pada umumnya menimbulkan rasa sedih atau dukacita yang dalam karena kita harus berpisah dengan orang yang kita kasihi. Namun jika dilihat dengan kacamata iman peristiwa kematian dapat menjadi peristiwa rahmat yang patut disyukuri. Bagi yang meninggal, kematian adalah saat kembali kepada Bapa asal dan tujuan hidup. Bagi yang ditinggalkan di dunia, kematian menjadi saat yang dinantikan.

Seperti seorang yang akan bepergian;  kepulangan kepada Bapa juga membutuhkan kesiapan, sikap berjaga-jaga. Siap melepas apa yang tidak perlu kita bawa dan siap membawa bekal yang kita perlukan untuk hidup abadi.

Dari beberapa pengalaman kematian saudari-saudari rohani di biara saya mendapat beberapa pelajaran berharga. Salah satunya pelajaran tentang  melepaskan.

Seorang saudari rohani kami ada yang mempunyai hobi mengumpulkan berbagai jenis barang yang menurutnya menarik. Mulai dari botol-botol plastik yang unik untuk vas bunga sampai gambar-gambar indah untuk membuat kartu. Semuanya dia buat untuk menyenangkan sesama. Tanpa terasa sedikit demi sedikit koleksinya memenuhi ruangan kamarnya yang berukuran 4 x 4 m2. Hingga suatu hari ia divonis menderita kanker usus. Tentu dia tidak dapat lagi memberi perhatian kepada barang-barang koleksiannya itu ataupun meneruskan hobinya.

Dia mulai berpikir untuk mengurangi barang-barang itu dan membersihkan kamarnya. Betapa berat melihat pergulatannya melepaskan barang-barang yang telah dikumpulkan itu. Dia menyadari telah ada ikatan emosi pada setiap barang miliknya. Dia membutuhkan waktu untuk memahami bahwa hidupnya tidak tergantung pada semua barang itu.

Sakit yang makin melemahkan fisiknya membuatnya secara perlahan berpasrah untuk mencukupkan diri dengan bantuan sesama. Saat-saat terakhir di kamar perawatan yang ia rindukan hanya menerima hosti kudus, sakramen pengurapan orang sakit dan sakramen tobat. Bekal-bekal itulah yang membuatnya semakin tenang menghadapi kematian. Ketika semua berkat itu diterima di sekeliling saudari-saudari rohani yang mendoakannya, ia mengucapkan “Saya sudah siap untuk pergi kepada Yesus, Ini terlalu sakit, saya sudah tidak kuat lagi. Terima kasih dan mohon maaf untuk semuanya”.

Ketika kita berani melepaskan apa yang tidak hakiki bagi hidup abadi, Allah akan menganugerahkan kepada kita bekal bagi hidup abadi.

“Ya Tuhan bantulah kami agar setia dan tekun mencari harta surgawi yang menghantar kami bersatu dengan Mu”.

Sr. Sisilia Andri SSpS

Berjaga-jagalah!

22 October 2018

trzebuniak@werbista.pl

Twitter

Facebook 

Linkedin

Google+

Doa Serikat Sabda Allah

 

Semoga tersingkirlah kegelapan dosa dan malam tak beriman
di hadapan cahaya
Sabda Allah dan Roh Rahmat
dan semoga hati Yesus hidup
dalam hati semua orang.

 

(Santo Arnold Janssen)