Satu minggu yang lalu kami berlima; saya bersama empat orang saudari SSpS yang mempersiapkan diri akan berangkat misi ke luar negeri mengalami peristiwa ketinggalan kereta. Berbagai rasa mewarnai hati keempat saudariku. Rasa menyesal tidak jadi menikmati perjalanan dengan kereta api.  Rasa bersalah karena tidak disiplin menghargai waktu. Rasa takut mengecewakan saya yang telah membeli tiket. Rasa rugi karena tiket hangus dan harus membayar lebih mahal untuk naik bus dengan tujuan yang sama.

Secara pribadi saya tidak terkejut dengan keterlambatan ini karena telah memperhitungkan waktu dan mengingatkan mereka. Namun ada sedikit rasa kecewa. Menyadari situasi batinku, saya memilih untuk bersikap  tenang, mencari solusi, dan memberi ruang bagi sesama untuk belajar, bukan larut dalam rasa bersalah. Dalam peristiwa ini saya belajar bagaimana menjadikan pengalaman yang mengecewakan menjadi sarana bertumbuh bersama dalam suasana sukacita, bukan pengadilan.

Batin yang tenang dan iklas membantu kami bisa bersyukur dalam pengalaman ini.  Kami juga bisa belajar bersama bagaimana menghargai waktu, uang, kesempatan yang diberikan oleh komunitas dan menghargai usaha sesama. Kami sempat membayangkan bersama “bagaimana jika ketinggalan pesawat ke tanah misi karena kelalaian yang sama?”. “Berapa banyak kerugian yang harus ditanggung?”. “Berapa banyak orang yang kita kecewakan dan cemas akan keadaan kita?”. Selama melanjutkan perjalanan dengan bus  kami berlima terdiam mencoba mencari makna dari pengalaman sore itu.

Melalui dua simbol yang dipilih Yesus untuk mengumpamakan tentang Kerajaan Allah hari ini, biji sesawi dan ragi (Lukas 13:18 – 21). Saya belajar tentang sebuah proses pertumbuhan yang terjadi karena berani berubah. Biji sesawi yang ditanam di kebun tumbuh menjadi pohon dan dapat menjadi tempat untuk burung-burung bersarang. Ragi yang diambil oleh seorang perempuan diadukkan secara rata dalam tepung menjadi adonan yang mengembang. Betapa pentingnya menyadari bahwa dalam diri kita masing-masing Kerajaan Allah dianugerahkan.  Ketika kita berani berubah, kita akan mengalami pertumbuhan dan menjadi berkat bagi banyak orang.

Sr Sisilia Andri SSpS

Berani Berubah Untuk Tumbuh

31 October 2018

trzebuniak@werbista.pl

Twitter

Facebook 

Linkedin

Google+

Doa Serikat Sabda Allah

 

Semoga tersingkirlah kegelapan dosa dan malam tak beriman
di hadapan cahaya
Sabda Allah dan Roh Rahmat
dan semoga hati Yesus hidup
dalam hati semua orang.

 

(Santo Arnold Janssen)